Thursday, May 19, 2011

PUSAT LABA

Ketika kinerja keuangan suatu pusat pertanggungjawaban diukur berdasarkan laba yang dihasilkan, maka pusat ini disebut pusat laba . Laba adalah selisih pendapatan dan biaya.
Pertimbangan Umum
Organisasi fungsional adalah organisasi yang melaksanakan fungsi produksi dan fungsi pemasaran oleh unit organisasi yang terpisah .Jika unit organisasi melaksanakan dan bertanggung jawab terhadap fungsi produksi dan pemasaran, disebut divisionalisasi.
Kondisi untuk Mendelegasikan Pertanggungjawaban Laba
Keputusan manajemen untuk meningkatkan biaya dengan harapan akan mendatangkan laba, keputusan ini disebut expense/revenue trade-off. Contohnya adalah tambahan biaya iklan diharapkan akan menaikkan penjualan. Ada 2 kondisi untuk mendelegasikan pertanggungjawaban laba:
1. Manajer harus memiliki akses ke informasi relevan yang dibutuhkan dalam membuat keputusan.
2. Harus ada cara untuk mengukur efektivitas atau suatu trade-off atas keputusan yang dibuat manajer.
Keuntungan Pusat Laba
1. Kualitas keputusan dapat meningkat karena keputusan dibuat oleh manajer yang paling dekat dengan poin keputusannya.
2. Kecepatan dalam membuat keputusan operasional dapat meningkat karena mereka tidak perlu persetujuan kantor pusat.
3. Manajemen kantor pusat bebas dari pengambilan keputusan harian sehingga mereka dapat lebih fokus pada isu yang lebih luas.
4. Manajer divisi lebih bebas berkreasi dan berinisiatif.
5. Karena pusat-pusat laba adalah perusahaan independen, sehingga memberikan dasar pelatihan yang sempurna bagi manajemen umum . Para manajer mendapat banyak pengalaman dalam mengelola semua area fungsional, dan manajemen tingkat tinggi lebih berkonsentrasi pada potensi kerja yang lebih tinggi.
6. Kesadaran untuk memperoleh laba dapat ditingkatkan, karena para manajer bertanggung jawab atas laba, sehingga akan selalu mencari jalan untuk berusaha untuk meningkatkan labanya.
7. Pusat laba memudahkan seorang manajemen puncak memperoleh informasi tentang profitabilitas komponen – komponen perusahaan.
8. Pusat laba didorong untuk meningkatkan kinerja kompetitif.
Kelemahan Pusat Laba
1. Dalam sistem desentralisasi, manajemen puncak akan kehilangan pengendalian karena hanya mengandalkan laporan pengendalian manajemen.
2. Jika manajemen kantor pusat lebih mampu atau memiliki informasi yang lebih akurat, maka kualitas keputusan yang diambil manajer unit bisnis akan berkurang.
3. Perselisihan (friksi) antar manajer pusat laba akan terjadi berkaitan dengan penentuan harga transfer, dan pengalokasian biaya bersama.
4. Terjadi kompetisi antar unit–unit organisasi sebagai satu unit fungsional yang bekerja sama.
5. Divisionalisasi mengakibatkan tambahan biaya karena ada tambahan manajemen, staf dan bagian pencatatan.
6. Kompetensi para manajer umum dapat hilang pada organisasi fungsional karena tidak adanya kesempatan mengembangkan keahliannya.
7. Lebih menekankan profitabilitas jangka pendek
8. Belum adanya sistem yang memuaskan untuk menjamin laba dari setiap pusat laba bisa mengoptimumkan laba perusahaan secara keseluruhan

Unit Bisnis sebagai Pusat Laba

Kebanyakan unit bisnis diperlakukan sebagai pusat laba karena bertanggungjawab atas pengembangan produk, fungsi produksi dan fungsi pemasaran, tetapi wewenang manajer unit bisnis dibatasi oleh berbagai hal.
Batasan pada Wewenang Unit Bisnis
Untuk merealisasikan manfaat konsep pusat laba adalah manajer unit bisnis harus otonimi sebagai presiden dari perusahaan yang independen.
· Batasan dari Unit Bisnis lain
Masalah utama akan terjadi ketika suatu unit bisnis harus berurusan dengan unit bisnis yang lain, sehingga ada 3 keputusan yang harus dilakukan yaitu:
1. Keputusan produk (barang /jasa apa yang harus dibuat dan dijual)
2. Keputusan pemasaran (bagaimana, dimana dan berapa banyak barang/jasa yang akan dijual)
3. Keputusan sumberdaya (bagaiman mendapatkan atau memproduksi barang/jasa)
· Batasan dari Manajemen Korporat
Ada tiga hambatan yaitu:
1. Pertimbangan strategi, misal keuangan, aktivitas produksi dan pemasaran, kualitas produk
2. Keseragaman yang diperlukan, misal kebijakan, etika, pemilihan pemasok, dan komputer
3. Economies of centralization, misal masalah yang timbul akibat struktur desentralisasi

Pusat Laba Yang Lain

Unit–unit Fungsional

Unit fungsional terdiri dari beberapa sub unit yaitu:
· Pemasaran. Aktivitas pemasaran dapat dijadikan sebagai pusat laba dengan membebankan biaya dari produk yang terjual. Harga transfer didasarkan pada biaya standar, tidak boleh biaya sesungguhnya.
· Produksi. Aktivitas produksi biasanya merupakan pusat biaya (expenses center), dengan penilaian atas kinerja manajemen dibandingkan dengan biaya standard dan anggaran overhead.. Jika diperlakukan sebagai pusat laba, maka pendapatan akan dikredit sebesar harga jual produk dikurangi taksiran biaya pemasaran. Beberapa penulis mengatakan unit produksi tidak dijadikan pusat laba, kecuali menjual hasil produksinya dalam jumlah besar kepada konsumen luar.
· Unit Pendukung dan Jasa. Unit pemeliharaan, teknologi informasi, transportasi, konsultan layanan konsumen dapat dijadikan sebagai pusat laba, dengan membebankan jasa yang diberikan kepada konsumen (pusat laba lain), sehingga minimum pendapatan sama dengan biayanya.
· Organisasi lainnya. Suatu perusahaan yang mempunyai cabang dan bertanggung jawab terhadap pemasaran produk perusahaan dapat dijadikan pusat laba. Pengukuran kinerja dengan cara ini menjadi yang terbaik untuk memotivasi dalam menghasilkan laba yang tinggi.

Mengukur Profitabilitas

Terdapat dua jenis pengukuran profitabilitas yaitu:
· Kinerja manajemen memiliki fokus pada hasil kerja manajer. Pengukuran ini menggunakan perencanaan, koordinasi dan pengendalian aktivitas pusat laba setiap hari
· Kinerja ekonomi berfokus pada bagaimana kinerja pusat laba sebagai suatu entitas ekonomi sehingga dapat mencapai atau memenuhi anggaran laba
Jenis–jenis Ukuran Profitabilitas
1) Contribution Margin (Laba Kontribusi)
Laba kotribusi menunjukkan rentang antara laba dengan biaya variabel. Alasan utama penerapan laba kotribusi adalah biaya tetap merupakan biaya yang tidak dapat dikendalikan oleh manajer, sehingga fokusnya adalah bagaimana memaksimalkan laba kotribusi yaitu dengan memperbesar jarak antara pendapatan dengan biaya variabel.
2) Direct Profit (Laba Langsung Divisi)
Laba langsung mencerminkan kontribusi pusat laba terhadap overhead umum dan laba perusahaan. Ukuran ini menggabungkan seluruh biaya pusat laba baik yang dapat ditelusuri dan yang tidak.
3) Controllable Profit (Laba Terkendali Divisi)
Biaya-biaya kantor pusat dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu: dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Biaya yang terkendalikan adalah biaya yang dapat dikendalikan dan ditelusuri pada divisi yang bersangkutan oleh manajer pusat laba.
4) Income Before Tax (Laba Sebelum Pajak)
Dasar pengalokasian ini menunjukan jumlah relatif biaya yang terjadi pada masing – masing pusat laba. Ada 2 alasan penerapan alokasi ini yaitu:
a) Biaya yang terjadi oleh kantor pusat seperti biaya pada bagian akuntansi & administrasi tidak dapat diawasi manajer pusat laba. Oleh karena itu biaya tidak dimasukkan karena tidak dapat dikendalikan.
b) Kesulitan dalam hal menemukan metode yang tepat untuk mengalokasikan biaya kantor pusat yang benar – benar berhubungan dengan pusat laba.
Tujuan dari penerapan alokasi ini adalah untuk menyadarkan kepada manajer pusat laba bahwa biaya yang dialokasikan tersebut untuk mendukung operasional perusahaan secara keseluruhan, sehingga tanpa adanya kontribusi laba dari pusat laba maka perusahaan tidak bisa mengoperasikan perusahaan.
5) Net Income (Laba bersih)
Dengan cara ini, perusahaan mengukur kinerja pusat laba dari jumlah laba bersih setelah pajak. Ada dua alasan kenapa cara ini dipakai:
a) Pada banyak situasi, laba setelah pajak ini merupakan prosentase yang tetap dari laba sebelum pajak, sehingga tidak mempunyai pengaruh pada pajak perusahaan.
b) Pada banyak kondisi, banyak keputusan yang mempunyai pengaruh terhadap pajak penghasilan dibuat oleh kantor pusat dan diyakini bahwa manajer pusat laba hendaknya tidak mempertimbangkan hal ini dalam pengambilan keputusan.
Pendapatan
Memilih suatu metode yang tepat dalam pengakuan pendapatan adalah sesuatu yang penting. sehingga apakah sebaiknya pendapatan dicatat ketika ada pesanan atau ketika pesanan dikirimkan atau justru pada saat uang diterima secara tunai?
Untuk menentukan keputusan yang tepat, perlu ada keterkaitan dengan pendapatan yang biasanya telah ditentukan. Dalam situasi tertentu, kesuksesan suatu penjualan ternyata ditentukan juga oleh pusat laba; idealnya; setiap pusat laba dapat memberikan piutang yang tepat untuk setiap transaksi.
Banyak perusahaan tidak memberikan perhatian lebih terhadap penyelesaian yang berkaitan dengan masalah pendapatan. Perusahaan–perusahaan ini hanya mencoba untuk mengidentifikasi seluruh pendapatan yang dapat dipertanggungjawabkan dan sudah semestinya para personil yang berada dibagian penjualan tidak hanya bekerja untuk diri mereka sendiri tetapi juga untuk kepentingan perusahaan. Terkadang ada beberapa perusahaan lain yang mencoba untuk menyelesaikan pertanggungjawabannya terhadap penjualannya dengan cara memberikan piutang kepada unit bisnis yang ditanganinya termasuk produk-produknya, penyesuaian terhadap komisi yang akan diberikan kepada broker atau fee yang pas.
Pertimbangan Manajemen
Setiap jenis pengukuran profitabilitas yang telah ditampilkan pada tabel diatas telah digunakan oleh beberapa perusahaan. Sebagian besar perusahaan di Amerika Serikat termasuk didalamnya ada beberapa perusahaan yang mendiskusikan biaya – biaya tersebut pada saat mengevaluasinya bersama para manajer perusahaan,sehingga mereka berpikir apakah ini sudah cukup terkendali atau tidak.
Akan tetapi banyak juga dari mereka yang cukup bingung dalam mengukur kinerja para manajer pusat laba yang ternyata gagal dalam memisahkan antara pegukuran yang dilakukan oleh para manajer dengan pengukuran secara ekonomis pada pusat laba. Jika suatu pengukuran hanya dilakukan sendiri oleh manajer, maka penyelesaiannya pun akan menjadi jelas. Para manajer seharusnya mengukur kembali point–point penting yang berpengaruh, itu pun jika mereka memiliki wewenang penuh dalam proses pengendalian tersebut. Para manajer sebaiknya juga mengukur dengan menggunakan dasar sesudah pajak dan ini pun hanya akan menjadi tolok ukur jika jumlah pajak yang mereka bayar berpengaruh besar terhadap proses pengukuran dan yang terpenting beberapa item yang tidak memiliki pengaruh besar seperti fluktuasi mata uang sebaiknya dihilangkan.
Pada akhirnya dengan munculnya berbagai macam analisis akan selalu menjadi hal yang penting dalam mengevaluasi kinerja manjemen.

PENERIMAAN PENUGASAN AUDIT, PERENCANAAN AUDIT, DAN STRATEGI AUDIT


A. PENUGASAN AUDIT
Tahapan Penugasan audit :
1. Penerimaan penugasan audit
Tahap awal dalam audit laporan keuangan adalah mengambil keputusan untuk menerima/menolak suatu kesempatan menjadi auditor untuk klien baru/ untuk melanjutkan sebagai auditor bagi klien yang sudah ada.
2. Perencanaan audit
Tahap kedua ini untuk pelaksanaan dan penentuan lingkup audit. Pada tahap ini perlu diterapkan standar umum dan standar pekerjaan lapangan dari standar auditing.
3. Pelaksanaan pengujian audit
Tujuan utama tahap ini adalah mendapatkan bukti audit mengenai efektivitas struktur pengendalian intern klien dan kewajaran laporan keuangannya. Pada tahap ini harus diterapkan standar umum dan standar pekerjaan lapangan dari standar auditing.
4.Pelaporan temuan
Laporan audit bisa berupa laporan standar, yaitu laporan audit dengan pendapat wajar tanpa perkecualian/ bisa juga menyimpang dari laporan standar.

Langkah-langkah dalam penerimaan penugasan audit :
1. Mengevaluasi integritas manajemen
2. Mengidentifikasi keadaan-keadaan khusus dan risiko tidak biasa
3. Menetapkan kompetensi untuk melakukan audit
4. Mengevaluasi independensi
5. Menentukan kemampuan untuk bekerja dengan cermat dan saksama
6. Menyiapkan surat penugasan

EVALUASI ATAS INTEGRITAS MANAJEMEN
Auditor hanya akan menerima penugasan apabila terdapat jaminan yang memadai bahwa manajemen klien bisa dipercaya. Apabila manajemen tidak memiliki integritas, kemungkinan besar terdapat kekeliruan dan ketidakberesan dalam proses akuntansi yang menjadi dasar penyusunan laporan keuangan. Bagi klien baru, auditor bisa memperoleh tentang integritas manajemen dengan bertanya pada auditor pendahulu/ mengajukan pertanyaan pada pihak
ke-3 yang dipandang mengenal klien, mereview pengalaman masa lalu dengan klien.

MENGIDENTIFIKASI KEADAAN-KEADAAN KHUSUS DAN RISIKO TAK BIASA
Hal-hal yang berhubungan dengan pengambilan keputusan untuk menerima penugasan pada tahap ini, antara lain :
1. Mengidentifikasi pemakai laporan keuangan auditan
Tanggungjawab hukum auditor bisa berbeda-beda tergantung pada siapa yang diperkirakan akan menjadi pemakai laporan keuangan auditan. OLeh karena itu auditor harus mempertimbangkan apakah klien merupakan perusahaan public/privat. Auditor harus mempertimbangkan apakah laporan audit yang biasa akan cukup untuk memenuhi kebutuhan semua pemakaian laporan/apakah perlu dibuat laporan khusus.
2. Memperkirakan adanya persoalan hukum dan stabilitas keuangan klien
Apabila perusahaan klien pernah mengalami kesulitan karena adanya gugatan hukum, dan apabila penggugat bisa menemukan alasan bahwa ia dirugikan karena keputusan yang diambilnyadidasarkan pada laporan keuangan , maka situasi demikian sangat mungkin akan melibatkan auditor. Bila hal itu terjadi , maka auditor terancam untuk membayar denda atas putusan pengadilan. Oleh karena itu, auditor harus berusaha untuk mengidentifikasi dan menolak calon klien yang memiliki risiko tinggi terkena gugatan hukum. Hal yang sama juga perlu diperhatikan auditor, apabila calon klien menunjukkan ketidakstabilan keuangan , seperti tidak mampu membayar utang yang jatuh tempo.
3. Mengevaluasi auditabilitas perusahaan klien
Mengevaluasi apakah laporan keuangan klien bisa diaudit atau tidak.

MENETAPKAN KOMPETENSI UNTUK MELAKSANAKAN AUDIT
Auditor harus memastikan apakah mereka memiliki kompetensi professional untuk menyelesaikan penugasan sesuai dengan standar auditing. Hal ini menyangkut penentuan berapa jumlah amggota tim audit dan mempertimbangkan kebutuhan bantuan dari knsultan atau spesialis pada waktu audit berlangsung.
Penetapan tim audit :
• Seorang partner yang bertanggungjawab penuh dan merupakan penanggungjawab akhir dari suatu penugasan.
• Seorang manajer/lebih yang mengkoordinasi dan melakukan supervise pelaksanaan program audit.
• Seorang senio/ lebih yang bertanggungjawab atas sebagian program audit dan melakukan supervise serta mereview pekerjaan staf asisten.
• Staf asisten yang mengerjakan berbagai prosedur audit yang diperlukan.

Mempertimbangkan kebutuhan konsultasi dan penggunaan spesialis
Elemen pengendalian mutu yang berkaitan dengan konsultasi menyatakan bahwa kantor akuntan public harus memilik kebijakan dan prosedur untuk memperoleh jaminan memadai bahwa personil akuntan public membutuhkan bantuan , sepanjang diperlukan , dari orang/ orang-orang yang memiliki tingkat pengetahuan , integritas, kebijaksanaan, dan otoritas yang sesuai. KAP kadang-kadang merasa perlu untuk menggunakan spesialis yang berasal dari luar KAP. Contoh spesialis :
1. Penilai untuk mendapatkan bukti tentang penilaian atas barang seni.
2. Insinyur tambang untuk menentukan jumlah cadangan atau deposit barang tambang yang ada di suatu pertambangan.
3. Aktuaris untuk menentukan jumlah rup[iah program pensiun yang akan digunakan dalam akuntansi.
4. Penasehat hukum untuk memperkirakan hasil akhir dari suatu perkara pengadilan yang masih berjalan.
5. Konsultan lingkungan untuk menentukan pengaruh undang-undang dan peraturan tentang lingkungan.

MENILAI INDEPENDENSI
Persyaratan independensi tidak dapat dipenuhi , maka penugasan harus ditolak atau calon klien harus diberi informasi bahwa apabila audit tetap dilaksanakan , maka auditor akan memberikan pendapat “ menolak member pendapat”.

MENENTUKAN KEMAMPUAN UNTUK MELAKUKAN AUDIT DENGAN CERMAT DAN SEKSAMA
2 faktor penting dalam menentukan kemampuan untuk melaksanakan kecermatan dan ketelitian adalah saat penunjukan dan penjadwalan pekerjaan lapangan.

Saat penunjukan
Penunjukan auditor secara dini oleh klien dan penerimaan penugasan oleh auditor akan berpengaruh pada perencanaan audit, Sebaliknya apabila penerimaan penugasan terjadi pada saat mendekati / sesudah akhir tahun buku , auditor bisa mendapat berbagai hambatan dalam perencanaan audit dan pelaksanaan pekerjaan lapangan , termasuk kemungkinan auditor harus menggeser ke belakang prosedur-prosedur yang seharusnya dilakukan pada tanggal neraca.
Penjadwalan audit
Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan pada umumnya dapat dibagi menjadi 2 kategori berikut :
• Pekerjaan interim , yaitu pekerjaan yang biasanya dilakukan dalam kurun waktu antara 3-4 bulan sebelum neraca.
• Pekerjaan akhir tahun , yaitu pekerjaan yang biasanya dilakukan dalam kurun waktu tidak lama sebelum tanggal neraca sampai kira-kira 3 bulan setelah tanggal neraca.
Penaksiran kebutuhan waktu
Dalam mempertimbangkan penerimaan penugasan, auditor biasanya membuat suatu taksiran kebutuhan waktu audit sebagi bagian dari pertimbangan dan penjadwalan . Pembuatan taksiran waktu meliputi estimasi tentang jumlah jam yang diperkirakan dibutuhkan oleh setiap tingkat staf untuk menyelesaikan setiap bagian audit dengan cermat dan seksama.
Personil klien
Penggunaan personil klien juga mempunyai dampak yang besar dalam penentuan staf dan penjadwalan , dan pada akhirnya berpengaruh pada honorarium audit. Pengaruh ini berkaitan dengan 3 prosedur auditing, yaitu prosedur untuk memperoleh pemahaman mengenai struktur pengendalian intern klien, pengujian pengendalian , dan pengujian substantif.

PEMBUATAN SURAT PENUGASAN
Langkah ini dibuat sebagai suatu praktik professional yang lazim untuk mengkonfirmasikan segala istilah dan terminology yang berkaitan dengan penugasan. Surat penugasan merupakan surat perjanjian atau kontrak yang secara hukum mengikat auditor dan klien.

B. PERENCANAAN AUDIT
Tahapan yang sangat penting adalah perencanaan , karena perencanaan mengatur mngenai urutan setiap bagian atau tahapan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang diharapkan.
Langkah-langkah dalam perencanaan audit :
1. Mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan bidang usaha klien.
2. Melaksanakan prosedur analitis.
3. Menetapkan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas.
4. Mempertimbangkan resiko audit.
5. Menetapkan strategi audit awal untuk asersi-asersi penting.
6. Mendapatkan pemahaman tentang struktur pengendalian intern klien.

BErbagai prosedur bisa digunakan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut . Beberapa prosedurnya antara lain :
• Mereview kertas kerja tahun lalu
• Mereview data industry dan bisnis klien
• Melakukan peninjauan ke tempat operasi klien
• Mengajukan pertanyaan kepada komite audit
• Mengajukan pertanyaan kepada manajemen
• Menentukan adanya hubungan istimewa
• Mempertimbangkan dampak dari pernyataan akuntansi dan auditing tertentu yang relevan

MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS
Prosedur analitis sebagai evaluasi informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya/ antara data keuangan dengan data nonkeuangan.

Prosedur analitis digunakan dalam auditing dengan tujuan-tujuan sebagai berikut :
• Pada tahap perencanaan audit, untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan luas prosedur audit lainnya.
• Pada tahap pengujian, sebagi pengujian substantive untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu, yang berhubungan dengan saldo rekening atau jenis transaksi.
• Pada tahap review akhir audit, sebagai review menyeluruh informasi keuangan dalam laporan keuangan setelah diaudit
Tahapan-tahapan sistematis :
1. Mengidentifikasi perhitungan / perbandingan yang akan dibuat.
2. Mengembangkan ekspektasi.
3. Melakukan perhitungan/perbandingan.
4. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan-perbedaan yang signifikan.
5. Menyelidiki perbedaan signifikan yang tak diharapkan.
6. Menentukan pengaruhnya terhadap perencanaan audit.

C. STRATEGI AUDIT AWAL
Mengingat adanya hubungan antara bukti, materialitas, dan komponen risiko audit, maka auditor bisa memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit untuk masing-masing asersi atau kelompok asersi.

KOMPONEN STRATEGI AUDIT AWAL
• Penetapan tingkat risiko pengendalian direncanakan
• Luasnya pemahaman atas struktur pengendalian intern yang harus dicapai
• Pengujian pengendalian yang akan dilakukan dalam penetapan risiko pengendalian
• Tingkat pengujian substantive direncanakan yang akan dilakukan untuk mengurangi risiko audit pada tingkat rendah yang sesuai.
Suatu strategi audit awal tidak merinci spesifikasi prosedur audit yang harus dilakukan dalam melaksanakan audit. Strategi ini mencerminkan pertimbangan awal auditor tentang pendekatan audit dan didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu mengenai pelaksanaan audit.
Cara auditor merumuskan 4 komponen strategi audit akan diuraikan untuk 2 alternatif strategi audit pada bagian berikut. Kedua strategi tersebut adalah :
Pendekatan tingkat risiko pengendalian ditetapkan maksimum digunakan kalau risiko pengendalian ditetapkan maksimal. SPI tidak efektif
Pendekatan tingkat risiko pengendalian ditetapkan lebih rendah digunakan pada penugasan ulangan . SPI efektif.

HUBUNGAN ANTARA STRATEGI DENGAN SIKLUS TRANSAKSI
Strategi diterapkan pada sekelompok asersi yang terpengaruh oleh suatu kelompok transaksi dalam suatu siklus transaksi. Logikanya karena banyak pengendalian intern difokuskan pada pengolahan satu tipe transaksi dalam satu siklus.

Sunday, October 24, 2010

PENERIMAAN PENUGASAN DAN PERENCANAAN AUDIT

TAHAPAN KEGIATAN DALAM AUDIT LAPORAN KEUANGAN
1. Penerimaan Penugasan Audit
Tahap awal adalah mengambil keputusan untuk menerima atau menolak kesempatan untuk menjadi auditor klien baru atau melanjutkan sebagai audior untuk klien yang sudah ada.
2. Perencanaan Audit
Merupakan tahap cukup sulit dan menentukan keberhasilan penugasan audit. Perencanaan ini biasanya dilakukan antara tiga hingga enam bulan sebelum akhir tahun buku klien.
3. Pelaksanaan Pengujian Audit
Tahap ini sering disebut sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan bukti audit efektivitas struktur pengendalian intern klien dan kewajaran laporan keuangannya. Pengujian ini dilakukan antara tiga sampai empat bulan sebelum akhir tahun buku klien.
4. Pelaporan Temuan
Merupakan tahap terakhir dari suatu audit.

PENERIMAAN PENUGASAN
Apabila auditor memutuskan untuk menerima suatu penugasan audit, maka auditor harus memikul tanggungjawab professional terhadap masyarakat, klien, dan terhadap anggota profesi akuntan public yang lain.
Langkah-langkah dalam Penerimaan Penugasan Audit :
1. Mengevaluasi integritas manajemen
a. Komunikasi dengan Auditor Pendahulu
Sebelum menerima penugasan, PSA No. 16, Komunikasi Antara Auditor Pendahulu dengan Auditor Pengganti (SA 315.02), mengharuskan auditor pengganti untuk mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dengan auditor pendahulu, baik secara lisan maupun tertulis. Komunikasi harus dilakukan dengan persetujuan klien, karena kode etik profesi melarang auditor untuk mengungkapkan informasi rahasia yang diperoleh dalam audit tanpa ijin klien.

b. Mengajukan Pertanyaan pada Pihak Ketiga
Informasi tentang integritas manajemen dapat diperoleh dari orang-orang yang mengenal klien, seperti penasehat hukum klien, bankir, dan pihak–pihak lain dalam lingkungan bisnis dan keuangan yang memiliki hubungan bisnis dengan calon klien. Sumber informasi potensial lainnya, adalah mereview berita yang berkaitan dengan penggantian manajemen puncak di majalah atau surat kabar dan seandainya calon klien adalah perusahaan terbuka yang menjual saham- sahamnya dipasar modal dan pernah diaudit auditor lain, informasi bisa diperoleh dengan membaca laporan klien ke Bapepam tantang penggantian auditor.

c. Mereview Pengalaman Masa Lalu dengan Klien
Auditor harus mempertimbangkan secara cermat pengalaman berhubungan kerja dengan manajemen klien di waktu yang lalu, seperti auditor harus mempertimbangkan semua kekeliruan dan ketidak beresan material, serta tindakan melawan hukum yang ditemukan dalam audit yang lalu. Auditor juga mengajukan pertanyaan kepada manajemen mengenai berbagai hal seperti ada tidaknya kewajiban bersyarat ( contingencies ), lengkap tidaknya notulen rapat dewan komisaris, dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Kebenaran jawaban manajemen atas pertanyaan- pertanyaan tersebut dalam audit yang lalu harus dipertimbangkan dengan cermat dalam mengevaluasi integritas manajemen.

2. Mengidentifikasi keadaan-keadaan khusus dan resiko tidak biasa
a. Mengidentifikasi Pemakai Laporan Keuangan Auditan
Auditor harus mempertimbangkan apakah klien merupakan perusahaan publik ( menjual saham- sahamnya kepada masyarakat ) atau perusahaan privat, kepada siapa saja atau kepada pihak ketiga mana diperkirakan klien berpotensi mempunyai kewajiban sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Auditor harus mempertimbangkan apakah laporan audit yang biasa akan cukup untuk memenuhi kebutuhan semua pemakaian laporan atau apakah perlu dibuat laporan khusus.

b. Memperkirakan Adanya Persoalan Hukum dan Stabilitas Keuangan Klien
Auditor harus berusaha untuk mengidentifikasi dan menolak calon klien yang memiliki resiko tinggi terkena gugatan hokum, seperti : investigasi aparat pemerintah mengenai hasil produksi, dan ketidakstabilan keuangan. Bahkan apabila tidak terdapat petunjuk adanya kesulitan yang sedang dihadapi perusahaan, auditor harus mempertimbangkan timbulnya masalah seperti itu di masa datang bersamaan dengan menurunnya kondisi perusahaan. Prosedur yang dapat digunakan auditor untuk mengidentifikasi hal- hal semacam itu adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada manajemen, menganalisa laporan keuangan yang pernah diterbitkan baik yang diaudit maupun tidaki diaudit, dan apabila memungkinkan dengan mereview laporan- laporan yang disampaikan kepada berbagai instansi.

c. Mengevaluasi Auditabilitas Perusahaan Klien
Auditor harus mengevaluasi apakah terdapat kondisi- kondisi lain yang menimbulkan pertanyaan mengenai auditabilitas klien. Kondisi- kondisi tersebut antara lain misalnya perusahaan tidak memiliki catatan akuntansi atau catatan akuntansinya buruk sekali, perusahaan tidak memiliki struktur pengendalian intern yang memadai, atau kemungkinan adanya pembatasan dari klien atas audit yang akan dilakukan. Bila auditor berhadapan dengan situasi demikian, maka sebaiknya ia menolak untuk menerima penugasan, atau klien harus diberi pengertian mengenai kemungkinan adanya pengaruh dari kondisi demikian terhadap laporan auditor.


3. Menetapkan kompetensi untuk melekukan audit
Standar umum yang pertama dalam standar auditing menyatakan bahwa :
“Audit harus dilaksankan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor”.
a. Penetapan Tim Audit
Tujuan elemen pengendalian mutu ini adalah untuk melihat bahwa tingkat keahlian teknis dan pengalaman tim audit akan dapat memenuhi keburuhan untuk menangani penugasan secara profesional. Dalam menetapkan anggota tim, perlu dipertimbangkan pula sifat dan luasnya supervisi yang harus dipersiapkan. Tim audit pada umumnya terdiri dari :
• Seorang partner yang bertanggung jawab penuh dan merupakan penanggung jawab akhir dari suatu penugasan.
• Seorang manajer atau lebih yang mengkoordinasi dan melakukan supervisi pelaksanaan program audit.
• Seorang senior atau lebih yang bertanggung jawab atas sebagian program audit dan melakukan supervisi serta mereview pekerjaan staf asisten.
• Staf asisten yang mengerjakan berbagai prosedur audit yang diperlukan.

b. Mempertimbangkan Kebutuhan Konsultasi dan Penggunaan Spesialis
Auditor perlu mempertimbangkan kemungkinan penggunaan konsultasi dan spesialis untuk membantu tim audit dalam melaksanakan audit. Elemen pengendalian mutu yang berkaitan dengan konsultasi menyatakan bahwa kantor akuntan publik harus memiliki kebijakan dan prosedur untuk memperoleh jaminan memadai bahwa personil kantor akuntan publik membutuhkan bantuan, sepanjang diperlukan, dari orang atau orang- orang yang memiliki tingkat pengetahuan, integritas, kebijaksanaan, dan otoritas yang sesuai . PSA No. 39, Penggunaan Pekerjaan Spesialis (SA 336), menyatakan bahwa auditor bisa menggunakan pekerjaan spesialis untuk mendapatkan bukti kompeten. Contoh spesialis, antara lain :
• Penilai (appraiser) untuk mendapatkan bukti tentang penilaian atas barang seni.
• Insinyur tambang untuk menentukan jumlah cadangan atau deposit barang tambang yang ada di suatu pertambangan.
• Aktuaris untuk menentukan jumlah rupiah program pensiun yang akan digunakan dalam akuntasi.
• Penasehat hukum untuk memperkirakan hasil akhir dari suatu perkara pengadilan yang masih berjalan.
• Konsultan lingkungan untuk menentukan pengaruh undang- undang dan peraturan tentang lingkungan.

4. Mengevaluasi indepedensi
Standar auditing kedua menyatakan bahwa
”Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh audit”.
Selain diatur dalam standar auditing, independensi dalam penugasan audit juga diwajibkan oleh Kode Etik IAI, disamping merupakan salah satu elemen dari elemen-elemen pengendalian mutu. Salah satu prosedur yang ditempuh adalah mengirim surat edaran kepada semua staf profesional KAP yang bersangkutan dengan menyebut nama calon klien, untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya hubungan keuangan atau bisnis dengan calon klien tersebut. Bila disimpulkan syarat independensi tidak dipenuhi, maka penugasan harus ditolak atau calon klien harus memberi informasi apabila audit tetap dilaksanakan, maka auditor akan memberikan pendapat ” menolak memberi pendapat ”.


5. Menentukan kemampuan untuk bekerja dengan cermat dan seksama
Standar auditing ketiga menyatakan bahwa
”Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama”.
- Saat Penunjukan
Penunjukan auditor secara dini oleh klien dan penerimaan penugasan oleh auditor akan berpengaruh pada perencanaan audit. Sebaliknya apabila penerimaan penugasan terjadi saat mendekati atau sesudah akhir tahun buku, auditor bisa mendapat berbagai hambatan dalam perencanaan audit dan pelaksanaan pekerjaan lapangan..

- Penjadwalan audit.
Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan umumnya dibagi menjadi dua kategori berikut :
Pekerjaan interim yaitu pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan dalam kurun waktu antara tiga sampai empat bulan sebelum tanggal neraca.
Pekerjaan akhir tahun yaitu pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan dalam kurun waktu tidak lama sebelum tanggal neraca sampai kira-kira tiga bulan setelah tanggal neraca.

- Penaksiran Kebutuhan Waktu.
Dalam mempertimbangkan penerimaan penugasan, auditor biasanya membuat suatu taksiran kebutuhan waktu audit. Pembuatan taksiran kebutuhan waktu meliputi estimasi tentang jumlah jam yang diperkirakan dibutuhkan setiap tingkat staff ( partner, manager, senior, dsb )untuk menyelesaikan setiap bagian audit dengan cermat dan seksama. Angka taksiran ini akan digunakan oleh kantor akuntan sebagai bahan diskusi dengan calon klien dalam menetapkan honorarium tertentu yang telah ditentukan jumlahnya berdasarkan kesepakatan dengan klien ( fixed-fee basis ), tapi honorarium audit.

- Personal Klien.
Penggunaan personal klien juga mempunyai dampak besar dalam penentuan staff dan penjadwalan, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada honorarium audit, pengaruh ini berkaitan dengan tiga kategori prosedur auditing, yaitu: prosedur untuk memperoleh pemahaman mengenai struktur pengendalian intern klien, pengujian pengendalian, dan pengujian substantif.

6. Menyiapkan surat penugasan
Langkah terakhir dalam tahap penerimaan penugasan adalah penyusunan surat penugasan. Bentuk dan isi surat penugasan berbeda-beda untuk setiap klien, namun secara umum setiap surat penugasan hendaknya berisi hal-hal:
- menyebutkan dengan jelas nama perusahaan atau satuan organisasi dan laporan keuangan yang akan diperiksa
- menyebutkan tujuan audit
- menyebutkan bahwa audit akan dilakukan berdasarkan standar profesional
- menjelaskan tenteng sifat dan lingkup audit dan tanggung jawab auditor
- menyebutkan bahwa walaupun audit telah dirancang dan dilaksanakan dengan baik
- mengingatkan manajemen
- menyebutkan bahwa manajemen akan diminta untuk mmberikan representasi tertulis kepada auditor.
- menjelaskan mengenai dasar perhitungan honorarium audit dan cara penagihan honorarium.
- meminta klien untuk mnegaskan kesepakatannya atas berbagai hal yang tercantum dalam surat penugasan dengan menandatangani surat penugasan tersebut dan mengirimkan kembali salinannya kepada auditor.

PERENCANAAN AUDIT
Standar pekerjaan lapangan pertama dalam standar auditing menyatakan bahwa :
“Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya”.
MENDAPATKAN PEMAHAMAN TENTANG BISNIS DAN BIDANG USAHA KLIEN
 Mereview Kertas Kerja Tahun Lalu
Dalam penugasan audit ulangan, auditor bisa memperoleh pengetahuan tentang klien dengan mereview kertas kerja tahun lalu. Selain itu, kertas kerja menunjukkan masalah-masalah yang mucul dalam audit pada tahun lalu yang mungkin akan berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya. Bagi klien baru, kertas kerja yang disusun auditor pendahulu bisa membantu. Klien harus memberi ijin pada auditor pengganti untuk mereview.
 Mereview Data Industri dan Bisnis Klien
Untuk memperoleh pengetahuan tentang bisnis klien, auditor bisa:
a. mereview anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perusahaan
b. membaca notulen rapat dewan komisaris dan dewan direksi untuk mendapatkan informasi-informasi tertentu
c. analisis laporan keuangan tahunan dan interim, laporan pajak penghasilan, dan laporan ke instansi-instansi terkait
d. mempelajari berbagai peraturan pemerintah yang relevan
e. membaca kontrak-kontrak yang belanjut
f. membaca publikasi-publikasi yang berkaitan dengan industri dan perdagangan untuk mempelajari perkembangan bisnis dan industri mutahir.
 Melakukan Peninjauan Ke Tempat Operasi Klien
Dari peninjauan langsung ke pabrik, auditor akan mengetahui tata-letak pabrik, proses operasi ( produksi ), fasilitas pergudangan, dan hal-hal yang bisa menimbulkan masalah. Selama peninjauan ke kantor, auditor akan mendapat pengetahuan tentang jenis dan lokasi catatan akuntansi dan fasilitas PDE, dan kebiasaan kerja para karyawan.
 Mengajukan Pertanyaan Kepada Komite Audit
Komite audit dari dewan komisaris bisa memberi penjelasan penting kepada auditor mengenai bisnis dan industri klien. Komite audit juga bisa memberi informasi kepada auditor tentang perubahan-perubahan penting dalam manajemen perusahaan dan struktur organisasi.
 Mengajukan Pertanyaan Kepada Manajemen
Pertanyaan yang diajukan kepada manajemen bisa menyangkut mengenai luas dan saat keterlibatan personil klien dalam pembuatan daftar-daftar dan analisis untuk auditor.
 Menentukan Adanya Hubungan Istimewa
Prinsip akuntansi yang berlaku umum mencakup keharusan membuat pengungkapan khusus dan dalam hal tertentu menetapkan perlakuan akuntansi khusus, untuk transaksi-transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. PSA 34, Pihak Yang memiliki Hubungan Istimewa ( SA 334.07 ) menyatakan bahwa prosedur audit khusus, termasuk yang disebutkan dibawah ini, harus digunakan untuk menentukan adanya transaksi yang memiliki hubungan istimewa lainnya:
a. Mengevaluasi prosedur perusahaan untuk mengidentifikasi dan membuat catatan yang memadai atas transaksi antar pihak yang memiliki hubungan istimewa.
b. Mereview dokumen yang dilaporkan oleh perusahaan kepada Bapepam atau instansi pemerintah yang lain mengenai nama pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa, dan bisnis lain yang di dalamnya para direktur perusahaan yang diperiksa menduduki jabatan direksi atau manajemen.
c. Mereview kertas kerja audit tahun yang lalu untuk mengidentifikasi nama pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa.
d. Mereview transaksi investasi yang material selama periode yang diperiksa untuk menentukan apakah sifat dan luas investasi selama periode tersebut menimbulkan pihak yang memiliki hubungan istimewa.
 Mempertimbangkan Dampak dari Pernyataan Akuntansi dan Auditing Tertentu yang relevan
Dampak dari sejumlah pernyataan yang dibuat oleh instansi berwenang tertentu. Dan jangan dilupakan, dalam tahap perencanaan audit ini, auditor juga harus membuat pertimbangan khusus atas pernyataan-pernyataan akuntansi dan pernyataan standar auditing terbaru.

MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS

PSA No. 22, Prosedur Analitis (SA 329.02), merumuskan prosedur analitis sebagai “evaluasi informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan yang lainnya, atau antara data keuangan dengan data nonkeuangan”.

Penggunaan prosedur analitis dalam auditing dengan tujuan-tujuan :
• Tahap perencanaan audit, membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan luas prosedur audit lainnya.
• Tahap pengujian, pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu (berhubungan dengan saldo rekening atau jenis transaksi)
• Tahap review akhir audit, review menyeluruh informasi keuangan dalam laporan keuangan setelah diaudit.

Prosedur analitis dapat membantu auditor dalam perencanaan dengan cara :
1. Meningkatkan pemahaman auditor atas usaha klien
2. Mengidentifikasi hubungan-hubungan yang tidak biasa dan fluktuasi yang tidak diharapkan dalam data yang bisa menunjukkan bidang-bidang yang kemungkinan mencerminkan resiko salah saji.

Penggunaan prosedur analitis dalam tahap perencanaan :
• Mengidentifikasi perhitungan atau perbandingan yang akan dibuat
- Perbandingan data absolute
- Analisis vertical (Common-size financial statements)
- Analisa rasio
- Analisis trend
• Mengembangkan ekspektasi atau harapan
- Informasi keuangan klien periode-periode yang lalu dengan mempertimbangkan perubahan yang diketahui
- Hasil antisipasi berdasarkan anggaran formal dan peramalan
- Hubungan antara elemen-elemen informasi keuangan pada suatu periode
- Data industry
- Hubungan antara informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan yang relevan
• Melakukan perhitungan atau perbandingan
• Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan
• Menyelidiki perbedaan signifikan yang tak diharapkan
• Menentukan pengaruhnya terhadap perencanaan audit.



Wednesday, March 17, 2010

Mengelola Perusahaan Digital


-->
4 alasan mengapa TI membuat perbedaan:
1. Manajemen Modal
TI merupakan komponen penanaman modal (investasi) terpenting. Dari tahun 1980 sampai 2003, investasi dalam TI (berupa hardware, software dan telekomunikasi) meningkat dari 19% menjadi 35%.
2. Fondasi untuk melakukan bisnis
Dengan menggunakan TI maka perusahaan dapat meningkatkan market share, serta dapat membantu perusahaan untuk memiliki kualitas yang tinggi dengan biaya produksi rendah. TI juga sangat penting untuk perkembangan produk baru.
3. Produktivitas
TI merupakan salah satu alat yang paling penting bagi manajer untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi perusahaan. Cth: melalui internet.
4. Peluang dan keunggulan strategi
TI merupakan peluang untuk memperoleh keunggulan dalam perubahan praktik dan manajemen bisnis.
5 faktor yang dipertimbangkan manfaat TI pada perusahaan bisnis:
1. Pertumbuhan internet dan teknologi _ Internet menggabungkan antara telekomunikasi dan internet. Internet juga membawa perubahan yang pesat pada pasar dan struktur pasar
2. Transformasi perusahaan bisnis
3. Pertumbuhan ekonomi global
4. Pertumbuhan pengetahuan dan informasi berdasar ekonomis
5. Timbulnya perusahaan digital _Sistem sudah terintegrasi.
Dimensi sistem informasi:
1. Keys element dari organisasi _ people, structure, operating procedures
2. Management _senior managers, middle managers, operational managers
3. TI _ hardware, software,storage, communication technology
4. Aset komplementer dan modal organisasi
Aset Komplementer:
- Proses bisnis baru
- Manajemen perilaku
- Kultur organisatoris
- Pelatihan
Modal Organisasi:
- Bisnis yang mendukung kultur yang menilai daya guna dan tepat guna
- Proses bisnis efisien. Desentralisasi otoritas
- Hak pengambilan keputusan didistribusikan dengan cepat
- Suatu tim pengembangan sistem informasi yang kuat
Pendekatan Kontemporer Sistem Informasi:
1. Technical approaches : management science, computer science, operation reaserch
2. Behavioral approaches : pyschology, economics, sociology
Yang dapat dilakukan dengan internet:
- Communicate and collaborate
- Accses information
- Participate in discussions
- Supply information
- Find entertainment
- Exchange business transactions